Hidayah memang tidak ada yang tahu kecuali Allah SWT. Bila sebagian orang ada yang merasa risih dengan suara adzan, beda dengan pria yang satu ini. Ia jadi tersentuh saat ada suara adzan menyapa. Akibatnya, pilih agama Islam sebagai kepercayaan hidupnya juga jadi pilihan yang kuat.

Ditulis Republika, Jum’at (8/4), Krisna Putra (34), seseorang narapidana masalah penganiayaan anak dirumah tahanan Polresta Bekasi Kota mengikrarkan syahadat, Jumat (7/4). Awalnya Krisna menganut Nasrani dan mengaku tenang setiap kali mendengar suara adzan.
Pria kelahiran Medan, 34 th. silam itu ditahan sejak pertengahan bln. Maret 2016 karena kasus penganiayaan anak. Ia dilaporkan karena memukuli anak kekasihnya yang masih berusia 3, 5 th.. Krisna lalu dikenai pasal 80 UU RI No. 35 th. 2014 mengenai Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman diatas lima th. penjara.
Jalinan Krisna dengan sang kekasih berawal saat dia berteman dengan seorang wanita bernama Sri Talu Kurniawati asal Semarang. Sri yang berstatus janda anak satu sehari-harinya bekerja sebagai guru anak autis.
“Mereka berteman melalui media sosial Facebook. Baru kenal lima hari, kemudian mereka sepakat bertemu ditempat kost Sri di daerah Pengasinan, ” kata Kasubag Humas Polresta Bekasi Kota, Iptu Puji Astuti, Jumat (8/4).
Pertemuan pertama itu rupanya berujung petaka untuk Krisna. Karena anak kekasihnya terus-menerus
rewel, ia juga emosi dan memukul bocah 3, 5 th. itu. Sri yg tidak terima anaknya dipukul segera melaporkan perbuatan Krisna ke polisi.
Menurut Iptu Puji, Krisna bukan kali pertama masuk penjara. Pada bln. September 2015, ia barusan menghabiskan masa tahanan 9 bln. di Lapas Semarang dengan masalah pemerasan. Tidak sampai 1/2 th. mereguk hawa bebas, pada pertengahan Maret 2016 mesti berurusan lagi dengan polisi untuk masalah tidak sama.
Krisna yaitu anak pertama dari tiga bersaudara. Lelaki yang berprofesi sebagai DJ di salah satu club malam di Jakarta ini mengakui sangat menyesal atas perbuatannya. “Dia terasa hidupnya hampa karena kurangnya kasih sayang dari ke-2 orang tuanya, ” kata Iptu Puji.
Menurut penuturan Krisna, ke-2 orang tuanya lebih menaruh perhatian pada ke-2 adiknya. Hal itu membuat Krisna mudah terbakar emosi dan berperilaku kasar. Saat ini, dia mengatakan sudah menyesali semua perbuatannya dan ingin minta maaf pada korban bila diperbolehkan bertemu.
Krisna mulai berniat masuk Islam waktu ia ada di rumah sakit. Pada awalnya, lelaki 34 th. itu terjatuh di kamar mandi tahanan. Ia juga dilarikan oleh petugas ke RS. Selama ada di RS, Krisna mengatakan tidak ada satupun keluarga yang menengoknya. Pada saat yang sama, dia seringkali mendengar suara adzan. Hatinya merasa tenang bila adzan berkumandang.
Didalam tahanan, Krisna juga terasa mendapatkan kawan baik dan petugas polisi yang selalu membimbingnya. Ia juga mantap mengucapkan dua kalimat syahadat di bawah bimbingan Ustaz Amir Hamzah, didampingi Kasat Tahanan dan Barang Bukti (Tahti) AKP Tugimin.
Sambil meneteskan air mata, mualaf ini menceritakan pengalaman hidupnya. Menurut Iptu Puji, setelah masuk Islam dia berjanji akan melaksanakan shalat, dan berbakti dan membahagiakan ke-2 orangtuanya. “Selain itu, dia menginginkan membangun pesantren untuk orang yang tidak mampu, ” tambah Puji.
Ditulis Republika, Jum’at (8/4), Krisna Putra (34), seseorang narapidana masalah penganiayaan anak dirumah tahanan Polresta Bekasi Kota mengikrarkan syahadat, Jumat (7/4). Awalnya Krisna menganut Nasrani dan mengaku tenang setiap kali mendengar suara adzan.
Pria kelahiran Medan, 34 th. silam itu ditahan sejak pertengahan bln. Maret 2016 karena kasus penganiayaan anak. Ia dilaporkan karena memukuli anak kekasihnya yang masih berusia 3, 5 th.. Krisna lalu dikenai pasal 80 UU RI No. 35 th. 2014 mengenai Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman diatas lima th. penjara.
Jalinan Krisna dengan sang kekasih berawal saat dia berteman dengan seorang wanita bernama Sri Talu Kurniawati asal Semarang. Sri yang berstatus janda anak satu sehari-harinya bekerja sebagai guru anak autis.
“Mereka berteman melalui media sosial Facebook. Baru kenal lima hari, kemudian mereka sepakat bertemu ditempat kost Sri di daerah Pengasinan, ” kata Kasubag Humas Polresta Bekasi Kota, Iptu Puji Astuti, Jumat (8/4).
Pertemuan pertama itu rupanya berujung petaka untuk Krisna. Karena anak kekasihnya terus-menerus
rewel, ia juga emosi dan memukul bocah 3, 5 th. itu. Sri yg tidak terima anaknya dipukul segera melaporkan perbuatan Krisna ke polisi.
Menurut Iptu Puji, Krisna
Krisna yaitu anak pertama dari tiga bersaudara. Lelaki yang berprofesi sebagai DJ di salah satu club malam di Jakarta ini mengakui sangat menyesal atas perbuatannya. “Dia terasa hidupnya hampa karena kurangnya kasih sayang dari ke-2 orang tuanya, ” kata Iptu Puji.
Menurut penuturan Krisna, ke-2 orang tuanya lebih menaruh perhatian pada ke-2 adiknya. Hal itu membuat Krisna mudah terbakar emosi dan berperilaku kasar. Saat ini, dia mengatakan sudah menyesali semua perbuatannya dan ingin minta maaf pada korban bila diperbolehkan bertemu.
Krisna mulai berniat masuk Islam waktu ia ada di rumah sakit. Pada awalnya, lelaki 34 th. itu terjatuh di kamar mandi tahanan. Ia juga dilarikan oleh petugas ke RS. Selama ada di RS, Krisna mengatakan tidak ada satupun keluarga yang menengoknya. Pada saat yang sama, dia seringkali mendengar suara adzan. Hatinya merasa tenang bila adzan berkumandang.
Didalam tahanan, Krisna juga terasa mendapatkan kawan baik dan petugas polisi yang selalu membimbingnya. Ia juga mantap mengucapkan dua kalimat syahadat di bawah bimbingan Ustaz Amir Hamzah, didampingi Kasat Tahanan dan Barang Bukti (Tahti) AKP Tugimin.
Sambil meneteskan air mata, mualaf ini menceritakan pengalaman hidupnya. Menurut Iptu Puji, setelah masuk Islam dia berjanji akan melaksanakan shalat, dan berbakti dan membahagiakan ke-2 orangtuanya. “Selain itu, dia menginginkan membangun pesantren untuk orang yang tidak mampu, ” tambah Puji.